Beberapa Pola Makan untuk Anak

Beberapa Pola Makan untuk Anak

Pola makan untuk anak sangat berpengaruh besar dalam kehidupan anak. Pola makan yang salah bisa berakibat berbahaya di masa yang akan datang. Secara umum ada 4 macam pola makan yang biasa diterapkan orang tua kepada anak.

1. Tipe Bebas.
Orang tua yang menggunakan tipe bebas dalam hal kegiatan makan, maka anak diberikan kebebasan sepenuhnya mengenai kapan harus makan dan menu apa yang akan dimakan. Begitu juga dengan jumlah makanan yang akan dimakan anak. Selama anak masih mau makan, maka orang akan tetap memberikan makanan untuk anak. Bisa dikatakan anak benar-benar memegang kendali dalam hal urusan makan. Termasuk jika anak suka ngemil, maka orang tua pun akan membiarkan anaknya untuk ngemil makanan sebanyak yang dia suka.

Model pola makan yang seperti ini bisa memunculkan beberapa dampak ya Ayah Bunda :
a. Karena anak belum mengetahui jenis makanan apa yang baik untuknya, maka anak cenderung hanya mengonsumsi makanan yang ia sukai saja. Hal ini mengakibatkan adanya resiko bahwa anak menjadi terlalu banyak menyantap junk food, namun anak akan kurang mendapatkan asupan buah-buahan dan sayur yang ia butuhkan.

b. Konsumsi makan yang bebas membuat anak bisa jadi terlalu banyak mengonsumsi makanan yang berlemak. Oleh karena itu, anak menjadi lebih tinggi resiko mengalami obesitas.

c. Walaupun berat badan anak sudah tinggi, tetapi bisa jadi anak kekurangan zat gizi lain yang ia butuhkan. Misalnya kekurangan serat vitamin dan mineral dari sayur dan buah-buahan

2. Tipe Kaku.
Orang tua yang menggunakan pola makan dengan tipe kaku, maka orang tua akan cenderung memaksakan kehendaknya dalam hal urusan makan kepada anak. Orang tua akan kaku dalam beberapa hal, misalnya dalam hal waktu makan, juga menu makanan. Anak juga hanya boleh mengonsumsi makanan yang disediakan orang tuanya serta tidak boleh memilih makanan sendiri yang ia sukai.

Model seperti ini bisa jadi memang akan membuat anak mempunyai gizi yang seimbang. Tetapi hal ini akan berakibat buruk dalam hal psikologis anak. Kegiatan makan bagi anak akhirnya akan menjadi kegiatan yang kurang menyenangkan.

Beberapa dampak buruk lainnya adalah :
a. Karena kegiatan makan bagi anak tidak terasa menyenangkan, maka anak akan menjadi kurang semangat dalam hal menyantap makanan. Anak pun akhirnya akan bersikap rewel dan menjengkelkan di waktu makan.

b. Anak pun akhirnya menjadi bersikap berlama-lama menyantap makanan. Kegiatan orang tua pun akhirnya bisa menjadi terganggu karena waktu makan menjadi sangat lama.

c. Jadwal makan yang sangat ditentukan oleh orangtua bisa berpotensi membuat anak kurang peka dalam mengenali sinyal lapar dan kenyang.

d. Situasi makan yang penuh dengan paksaan akan membuat anak bisa jadi memiliki berat badan yang berlebih atau sebaliknya terlalu rendah.

3. Tipe Abai.
Orang tua dengan tipe ini cenderung bersikap abai terhadap kebutuhan makan anaknya. Orang tua merasa bahwa anak bisa makan sendiri atau minta makan ketika ia lapar. Anak pun akhirnya bisa larut dalam kegiatan bermain sampai kemudian lupa makan.

Hal ini bisa mengakibatkan beberapa dampak negatif:
a. Anak bisa jadi belum memahami bahwa ia membutuhkan asupan gizi tertentu. Karena keasyikan anak dalam bermain, bisa membuat anak lupa makan. Hal ini bisa membuat anak kekurangan gizi yang sangat ia butuhkan.

b. Jadwal makan yang sangat tidak teratur membuat anak akhirnya tidak mengetahui agenda apa yang akan ia alami. Ketidakpastian kegiatan ini membuat anak mempunyai perasaan tidak aman.

c. Dikarenakan kegiatan makan adalah kegiatan yang sering diabaikan oleh orang tuanya, maka anak pun menjadi suka makan di waktu ada kesempatan. Apapun makanan yang ia temukan maka bisa diambil oleh anak.

4. Tipe Otoritatif.
Orang tua yang menerapkan model otoritatif maka ia menempatkan kegiatan makan secara proporsional. Orang tua tidak memaksakan jenis makanan tertentu karena orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih jenis makanan yang ia sukai. Walau demikian, orang tua tetap memberikan rambu-rambu mengenai makanan apa yang boleh dikonsumsi oleh anak. Misalnya orang tua memberikan syarat boleh memilih makanan tetapi jangan memilih junk food.

Orang tua juga menyampaikan mengenai kapan anak harus makan serta jenis makanan apa yang baik untuk anak. Dengan demikian, anak akan mempunyai pemahaman tentang makan yang baik. Misalnya dari sisi waktu makan, jenis makanan, selalu mencuci tangan sebelum makan, ketertiban ketika makan, dan lain sebagainya.

Model otoritatif ini adalah model yang terbaik dari 3 model sebelumnya. Beberapa hal positif yang bisa terjadi dengan menerapkan model otoritatif ini adalah:
a. Anak akan berkurang resiko obesitas.

b. Anak akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal mengatur asupan makanannya dalam kehidupan sehari-hari.

c. Anak yang paham mengenai pola makan yang baik maka akan membuat anak untuk mengonsumsi makanan bergizi secara sukarela misalnya sayuran dan buah-buahan.

Demikian beberapa pola makan yang perlu Ayah Bunda ketahui. Pilihlah pola makan yang otoritatif agar anak mendapatkan asupan gizi yang paling baik. (Tim Karima; www.karimafood.com)

Bagi Ayah Bunda yang ingin berlangganan materi edukasi tentang Bayi, Balita, dan Pendidikan Anak, silakan bergabung ke WA Group Edukasi Karima. Silakan klik : https://karimafood.com/ke untuk bergabung. GRATIS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *