Masalah Gizi pada Balita

Masalah Gizi pada Balita

Tentu tidak ada yang ingin buah hatinya mengalami gizi buruk. Meski ada faktor penyebab gizi buruk seperti faktor penyakit bawaan dan lingkungan, namun faktor utama tetaplah faktor konsumsi. Artinya makanan yang diberikan pada bayi tidak mencukupi gizi yang diperlukan, dan hal ini bukan semata karena persoalan ekonomi, melainkan lebih ke persoalan ilmu atau pemahaman orang tua. Pemahaman itu termasuk juga pemahaman tentang gejala atau tanda klinis yang mengindikasikan bayi mengalami gizi buruk, beserta penyebabnya.

Bunda, jika bayi yang susah makan tidak segera teratasi maka ia akan rentan terkena masalah gizi. Akibatnya tidak bisa dipandang enteng, karena bukan hanya hambatan dalam pertumbuhan fisik, tapi juga mentalnya. Bahkan termasuk perkembangan otaknya juga akan ikut terpengaruh. Buah hati bisa mengalami penurunan kecerdasan, dan tumbuh jadi anak yang ‘lola’ alias loading lambat. Bunda pernah mengakses internet dengan jaringan yang lola? Ngeselin banget kan? Jangan sampe dong anak kita jadi anak yang lola. Internet lola, gampang, ganti aja provider atau pindah warnet. Lha kalau anak yang lola, apa ya mau diganti anak tetangga? Kalau anak tetangga lola juga gimana? He he he… Sudah paham ya, intinya bunda kudu ngeh, musti aware terhadap permasalahan gizi ini. Pelajari cara pencegahannya, ketahui tanda-tandanya, kuasai penanganannya… 

Kategori kurang gizi :

  1. Marasmus
    • Anak sangat kurus
    • Wajah seperti orang tua
    • Cengeng dan rewel
    • Rambut tipis, jarang dan kusam
    • Kulit keriput
    • Tulang iga tampak jelas
    • Pantat kendur dan keriput
    • Perut cekung

Marasmus merupakan gangguan karena kekurangan protein, energi dan zat gizi lainnya. Marasmus dapat dideteksi jika berat badan anak sangat kurang dari yang seharusnya. Penyebabnya adalah karena kelaparan dalam rentang usia satu bulan. Dampaknya bisa menghambat proses tumbuh kembang bahkan yang paling parah bisa menyebabkan kematian.

2. Kwashiorkor

  • Wajah bulat dan sembab
  • Cengeng dan rewel
  • Rambut tipis, jarang, kusan, warna rambut jagung dan bila dicabut tidak sakit.
  • Kedua punggung kaki bengkak
  • Bercak merah kehitaman di tungkai atau di pantat

Kwashiorkor adalah gangguan karna kurang protein. Anak tidak merasakan lapar karena cukup mendapatkan karbohidrat atau energi dari makanannya. Artinya, secara jumlah, makanannya cukup, tapi secara kandungan gizi, ia tidak seimbang. Nah, seperti marasmus, dampak kwashiorkor ini akan membuat anak mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan. Jika bunda ingin mengenali gejalanya, perhatikanlah kaki, tumit, atau bagian lain. Jika ada pembengkakan, otot terlihat lemas dan tidak berkembang dengan baik maka bunda harus tanggap. Bisa jadi anak terkena masalah gizi yang satu ini. Selain itu, dari pembawaan dan sikap anak, gejalanya pun bisa nampak.  Misal anak selalu kelihatan memelas, cengeng, lemah dan tidak mempunyai nafsu makan, muka bundar seperti bulan purnama (moon face). Oh ya bunda, salah satu ciri fisik lain, namun bukan ciri utama adalah berubahnya warna rambut akibat hilangnya pigmen pada rambut.

3. Marasmus Kwashiorkor

  • Anak sangat kurus
  • Wajah seperti orang tua atau bulat dan sembab
  • Cengeng dan rewel
  • Tidak bereaksi terhadap rangsangan, apatis
  • Rambut tipis, jarang, kusan, warna rambut jagung dan bila dicabut tidak sakit.
  • Kulit keriput
  • Tulang iga tampak jelas (iga gambang)
  • Pantat kendur dan keriput
  • Perut cekung atau buncit
  • Bengkak pada punggung kaki yang berisi cairan (edema) dan bila ditekan lama kembali
  • Bercak kehitaman di tungkai dan pantat

Nah, kalau yang ini gabungan dari kedua masalah di atas, yaitu marasmus kwashiorkor. Bunda mungkin lebih akrab dengan istilah busung lapar? Nah itu bahasa populernya. Ya, marasmus lwashiorkor = Busung Lapar. Masalah ini terjadi karena anak kekurangan kalori dan protein. Tidak terpenuhinya kedua hal ini antara lain karena :

  • Masalah kemiskinan
  • Orang tua tidak mengerti cara memberi makan yang yang baik sehingga asupan gizinya kurang, biasanya terkait tingkat pendidikan yang rendah.
  • Komplikasi penyakit lain sehingga anak susah makan.
  • Rapatnya jarak kehamilan dan kelahiran sehingga anak-anak tidak mendapat cukup perhatian dan ASI.

Akibat busung lapar, anak mudah terserang penyakit lain, disamping pertumbuhan badan tidak sempurna, perkembangan fisik dan mental juga akan terhambat sehingga kemampuan belajar serta kreatifitas anak menurun dan dapat menyebabkan kematian.

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

×

Assalamualaikum wr wb.

Silakan chat via WA atau email ke admin@karimafood.com

× Chat CS