Melatih Anak Belajar Mengendalikan Diri

Melatih Anak Belajar Mengendalikan Diri

blank

Pernahkah Ayah Bunda berjalan-jalan bersama anak misalnya di toko, kebetulan anak melihat mainan yang ia sukai, kemudian anak merengek-rengek minta dibelikan mainan tersebut? Ketika tidak dipenuhi, anak marah-marah, menangis, atau berteriak-teriak? Jadi anak ingin saat itu juga keinginannya dipenuhi. Mungkin pernah ya Ayah Bunda menemui situasi tersebut? Lantas, bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai orang tua?

Dalam kondisi ini, sebenarnya anak membutuhkan bantuan dari kita tentang cara mengendalikan diri. Berikut ini beberapa cara yang bisa kita lakukan.

Pertama, Jadikan Kedua Orang Tua sebagai Teladan.

Tidak jarang orang tua juga berada dalam kondisi yang tidak diinginkan, misalnya terjebak macet di jalan. Di sini kita bisa menunjukkan sikap sabar dalam situasi yang mungkin menjengkelkan bagi banyak orang tersebut. Jangan sampai kita sebagai orang tua justru nampak bersikap tidak sabaran dan hal tersebut dilihat oleh anak.

Kedua, Alihkan Perhatian Anak kepada Hal Lain.

Anak itu mudah sekali menginginkan sesuatu, tapi ia juga mudah lupa pada sesuatu. Rentang memori pada usia anak-anak masih terbatas. Hal ini bisa kita gunakan untuk latihan anak-anak mengendalikan diri. Misalnya anak ingin bermain game di HP orang tuanya. Kita bisa alihkan dengan mengajak anak bermain permainan lainnya.

Ketiga, Berikan Apresiasi Jika Anak Berhasil Mengendalikan Diri.

Anak memang sulit untuk menunda apa yang ia inginkan. Mereka ingin agar keinginannya segera dipenuhi saat itu juga. Berikan pengertian bahwa jika anak mau bersabar terlebih dahulu, mereka bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Misalnya anak ingin segera berbuka puasa padahal adzan maghrib masih lama. Ayah Bunda bisa menjanjikan jika anak mau berpuasa sampa magrib, nanti akan dibelikan es krim yang disukai anak.

Keempat, Rajin Mengingatkan.

Anak seringkali lupa pada aturan-aturan yang sudah dijelaskan oleh orang tuanya. Misalnya tidak boleh nonton televisi sebelum selesai belajar. Oleh karena itu, orang tua harus rajin-rajin mengingatkan anaknya jika melanggar aturan tersebut.

Kelima, Ajak Anak Berolahraga

Dalam olah raga permainan yang membutuhkan strategi, misalnya bermain basket atau sepak bola, anak akan menjadi terbiasa menahan diri daripada selalu menuruti keinginannya.

Demikian beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk melatih anak mengendalikan diri. Semoga bermanfaat ya Ayah Bunda.  (Tim Karima; www.karimafood.com)

Bagi Ayah Bunda yang ingin berlangganan materi edukasi tentang Bayi, Balita, dan Pendidikan Anak, silakan bergabung ke WA Group Edukasi Karima. Silakan klik : https://karimafood.com/ke untuk bergabung. GRATIS.

 

Cara Mengatasi Temper Tantrum pada Anak

Cara Mengatasi Temper Tantrum pada Anak

blank

Ayah Bunda pernah melihat anak yang marah-marah karena keinginannya tidak terpenuhi? Perilakunya seperti menangis keras, berguling-guling, melemparkan barang-barang, dan lain sebagainya? Perilaku tersebut biasanya akan dipertahankan sampai keinginannya dipenuhi. Itulah yang disebut temper tantrum. Nah, bagaimana sikap kita sebagai orang tua?

Berikut ini beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi temper tantrum pada anak :

Pertama, Biarkan Anak dengan Perilaku Tersebut.

Kita sebaiknya menyikapi dengan wajar perilaku anak tersebut. Diamkan saja terlebih dahulu, tapi dengan tetap memantau kondisi di sekitar anak. Pastikan aman dan tidak ada bahaya.

Kedua, Tidak Perlu Marah atau Memukul Anak

Sebagai orang tua, kita tidak perlu terpancing untuk marah kepada anak. Justru anak akan cenderung meningkat perilaku marahnya.

Ketiga, Tidak Perlu Terburu-buru Memenuhi Keinginan Anak yang Sedang Tantrum

Memenuhi keinginan anak saat itu juga, mungkin akan kita anggap menyelesaikan masalah. Namun faktanya tidak. Berikan penjelasan kepada anak dengan baik tanpa emosi. Diharapkan anak dapat memahami dan menerima penjelasan tersebut.

Keempat, Koordinasi Antara Kedua Orang Tua.

Pastikan ada koordinasi antara kedua orang tua. Jangan sampai Bunda tidak memenuhi keinginan si anak, tapi Ayahnya memenuhinya. Hal ini akan berakibat Ayah dipandang sebagai pahlawan sementara Bunda sebagai musuhnya. Atau bisa juga sebaliknya.

Kelima, Komunikasi dengan Orang Sekitar Khususnya Kakek dan Nenek.

Anak seringkali tidak hanya berinteraksi dengan kedua orang tuanya, tapi juga kakek neneknya. Suatu hal yang biasa apabila nenek cenderung memanjakan cucunya. Segala keinginan langsung dipenuhi. Upayakan ada komunikasi yang baik dengan kakek nenek si anak agar ada kekompakan dengan orang tua. Jangan sampai upaya kita mengatasi anak tantrum justru gagal.

Temper tantrum bukan penyakit yang berbahaya. Tapi sebagai orang tua kita tidak boleh membiarkan masalahnya begitu saja sampai lama karena bisa mengganggu perkembangan emosional anak. Ketika nampak gejala tantrum, maka lakukan beberapa tips di atas.

Semoga bermanfaat ya Ayah Bunda.  (Tim Karima; www.karimafood.com)

Bagi Ayah Bunda yang ingin berlangganan materi edukasi tentang Bayi, Balita, dan Pendidikan Anak, silakan bergabung ke WA Group Edukasi Karima. Silakan klik : karimafood.com/ke untuk bergabung. GRATIS.

×

Assalamualaikum wr wb.

Silakan chat via WA atau email ke admin@karimafood.com

× Chat CS